Sabtu, 07 Juli 2018

Materi PAI (Ayat Al-Qur'an dan Hadis tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT.)


Ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT.
A.    Pengertian Syukur
Kata ‘syukur’ adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah, dan untunglah (menyatakan lega, senang).
Syukur berarti berterima kasih kepada Allah SWT. sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia berarti ucapan dari perasaan senang, bahagia, melegakan ketika mengalami suatu kejadian yang baik. Dalam konteks ini istilah syukur merupakan suatu tindakan, ucapan, perasaan senang, bahagia, atau lega atas nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. banyak nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. apabila kita mencoba menghitungnya pasti bisa mengetahui jumlahnya.[1]
B.     Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Mensyukuri Nikmat Allah.
1.      Q.S. Az-Zuhruf ayat 9-13
وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ ٩ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا وَجَعَلَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠ وَٱلَّذِي نَزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءَۢ بِقَدَرٖ فَأَنشَرۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ ١١ وَٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡفُلۡكِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مَا تَرۡكَبُونَ ١٢ لِتَسۡتَوُۥاْ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ رَبِّكُمۡ إِذَا ٱسۡتَوَيۡتُمۡ عَلَيۡهِ وَتَقُولُواْ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ ١٣
Artinya:
(9) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka; “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.
(10) Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
(11) Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).
(12) Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.
(13) Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni’mat Tuhamnu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.[2]

Penjelasan surat Az-Zuhruf ayat 9-13:
a.       Pada ayat 9 dijelaskan bahwa Allah STW. Memberi penjelasan kepada nabi Muhammad saw. jika ia bertanya kepada orang-orang musyrik tentang zat yang membuat alam semesta dan seluruh isinya, yaitu langit dan bumi, mereka dengan tegas akan menjawab “semua itu diciptakan yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui segalanya, yaitu Allah SWT. yang tidak ada sekutu baginya”. Meskipun demikian mereka tetap dilakukan peribadatan kepada selain Allah SWT. sesungguhnya mereka mengetahui bahwa Allah SWT. yang menjadi segalanya. Namun mereka tetap mengingkarinya.
b.      Pada ayat 10 dijelaskan bahwa Allah SWT. yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan menyiapkan bagi makhluknya untuk tetap mereka menetap. Allah SWT. membeuat jalan-jalan agar manusia dapat berkunjung dari satu tempat ke tempat lainuntuk kepentingan hidup, ekonomi, dan perdagangan.
c.       Pada ayat 11 dijelaskan bahwa Allah SWT. menurunkan hujan dari langit sesuai dengan kadarnya bagi kepentingan makhluk yang ada di dalam alam semesta. Dengan turunnya hujan tersebut menjadi tanaman-tanaman yang belum mati menjadi sumber dan menumbuhkan berbagai tanaman bagi kepentingan makhluk hidup lainnya. Berkaitan denagn hal ini, Allah SWT. dengan kuasa-Nya sangat mudah membengkitkan manusia dari dalam kubur dan menghidupkan kembali.
d.      Pada ayat 12 dijelaskan bahwa Allah SWT. yang menciptakan semua manusia yang berpasang-pasangan, baik dari jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia menjadikan kendaraan berupa kapal yang dapat digunakan untuk mengangkut barang dagangan di laut serta binatang ternak, seperti unta, kuda, keledai dan sapi yang dapat digunakan sebagai alat angkut di darat.
e.       Pada ayat 13 dijelaskan bahwa Allah SWT. memerintahkan kepada manusia yang berada di atas kendaraannya untuk senantiasa mengagungkan nama-nama Allah SWT. dengan bertasbih dan mensucikannya dari hal-hal yang dapat merusak keimanan terhadap Allah SWT. yaitu perbuatan syirik.[3]
2.      Q.S. Al-Ankabut ayat 17
إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ١٧
Artinya: “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka mintalah rizki itu disisimu, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepadanyalah kamu akan dikembalikan”.

Penjelasan surat Al-Ankabut ayat 17
Ayat tersebut menjelaskan tentang perbuatan syirik yang dilakukan oleh kaum nabi Ibrahim as, yaitu menyembah berhala. Perbuatan tersebut dilakukan dengan anggapan akan mendapatkan manfaat dan kebaikan bagi diri mereka sendiri. Pada ayat tersebut Allah SWT. telah menjelaskan bahwa perbuatan menyembah berhala tidak akan memberikan manfaat terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Perbuatan syirik hanya akan menyebabkan pelakunya mendapat adzab dari Allah SWT. dan siksa di neraka.
Pada ayat tersebut terdapat tiga pokok ajaran yaitu perintah hanya menyembah kepada Allah SWT, memohon rezeki hanya kepada Allah SWT. dengan jalan berusaha secara halal, dan bersyukur kepada Allah SWT. atas rezeki yang diberikannya. Meskipun ayat tersebut diserukan kepada nabi Ibrahim as, ajaran tersebut berlaku kepada seluruh umat manusia.
Orang yang menyembah selain kepada Allah SWT. sebenarnya telah berdusta kepada dirinya. Dusta karena menganggap bahwa yang disembah itu akan mendatangkan kebahagiaan dan memberikan rezeki. Padahal ia sendiri tahu yang disembahnya itu adalah ciptaan manusia atau bahkan ciptaan dirinya sendiri alangkah bodohnya manusia tersebut. Ia tidak menggunakan akal pikirannya dan berdusta karena pada saat roh ditiupkan ke dalam raganya, ia mengakui bahwa tuhannya Allah SWT.[4]
Sejak dalam kandungan manussia telah mengakui bahwa Allah SWT. adalah tuhan mereka. Namun, karena kesombongan dan kekerasan hati mereka mengingkari Allah SWT. dan tidak mau mengesakannya. seharusnya manusia bersyukur dengan senantiasa mengungkapkan pujian dan bertasbih kepada Allah SWT.
3.      Hadis mensyukuri nikmat Allah
Mengenai hadis tentang mensyukuri nikmat Allah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah saw bersabda: lihatlah orang yang lebih rendah daripada kamu dalam urusan dunia dan jangnlah kamu melihat orang yang lebih tinggi daripada kamu, maka dia lebih pantas (menempati) keududukan yang lebih tinggi daripada kamu agar kamu tidak mengandai-andai (jangan kamu panstas-pantaskan kedudukan orang di atasmu). (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadis ini, Rasulullah memperingatkan, bahwa manusia harus bersikap syukur terhadap nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Dan resep yang dijelaskan Rasulullah adalah manusia agar memandang ke bawah atau lebih rendah dalam hal keduniaan seperti, kedudukan, pangkat, dan harta kekayaan karena hal tersebut akan mendorong manusia untuk lebih bersyukur. Dan manusia harus sadar bahwa, kedudukan atau pangkat serta harta kekayaan yang lebih tinggi yang dimiliki orang lain itu merupakan ujian, sehingga manusia lebih selamat memandang ke bawah dalam hal tersebut. Sehingga terhindar dari sikap mengandai-andaikan yang menimbulkan manusia akan jauh dari syukur nikmat, padahal orang kalau ingkar nikmat akan mendapatkan azab yang pedih.[5]
C.     Cara Mensyukuri Nikmat Allah
Mengacu pada pengertian iman, yaitu membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal perbuatan, maka bentuk syukur juga ada tiga, yaitu:
1.      Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari dengan sepenuh hati bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah SWT.
2.      Bersyukur dengan lidah atau ucapan, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat Hamdalah.
3.      Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan nikmat yang Allah berikan sesuai engan syarat Allah. Misalnya, menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang baik.

Hikmah dan manfaat bersyukur kepada Allah:
1.      Menjadi bahagia karena dia akan membawa manfaat baginya dan sekitarnya.
2.      Allah akan menambah nikmat yang ia peroleh dengan janji Allah SWT. akan terhindar dari siksa neraka yang amat pedih.
3.      Orang yang pandai bersyukur akan disukai banyak orang, karena ia adalah orang yang pandai berterima kasih kepada sesama.[6]


Sumber:
1.      Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan Pustaka, 2007.
2.      Kementrian Agama RI. Al-Qur’an Hadis MA Kelas XI. Surakarta: Kementrian Agama, 2008.
3.      Ahmad Husen. et.all.. Qur’an Hadis Madrasah Aliyah Kelas XI. Semarang: Akik Pustaka, tt.
4.      Kementrian Agama RI. Al-Qur’an Hadis MA Kelas XI.




[1] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: MIzan Pustaka, 2007), 285.
[2] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Hadis MA Kelas XI (Surakarta: Kementrian Agama, 2008), 4-5.
[3] Ibid., 5.
[4] Ibid., 7-9.
[5] Ahmad Husen, et.all., Qur’an Hadis Madrasah Aliyah Kelas XI (Semarang: Akik Pustaka, tt.), 58-59.
[6] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Hadis MA Kelas XI, 43.

Materi PAI (Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT.)


IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH
A.    Pengertian dari Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Secara etimologi kata kitab adalah bentuk masdar dari kata kataba yang berarti menulis. Setelah jadi masdar berarti tulisan. Bentuk jama’ dari kata kitab adalah kutub. Dalam bahasa Indonesia, kitab berarti buku. Sedangkan secara terminologis yang dimaksud dengan kitab (Al-kitab, kitab Allah, Al-kutub kitab-kitab Allah) adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt kepada para Nabi dan Rasul-Nya.[1] Iman kepada kitab-kitab suci dalam Islam, merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan iman kepada Allah Yang Maha Esa, Malaikat dan Rasul. Allah yang bersifat pengasih dan penyayang kepada makhluk-Nya, termasuk kepada umat manusia, berkehendak untuk memberi petunjuk (hidayah) hidup dengan menurunkan wahyu-Nya, yang kemudian menjadi kitab suci. Berperan disana malaikat sebagai perantara antara Allah sebagai sumber wahyu dengan rasul, sebagai penerima wahyu dan risalah.[2] Firman Allah SWT: 
  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦
Artinya:  “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauhjauhnya”. (QS. An-Nisa: 136)
Percaya kepada kitab-kitab Allah SWT hukumnya adalah wajib ‘ain atau wajib bagi seluruh warga muslim di seluruh dunia. Orang yang mengingkari serta tidak percaya kepada Al-quran disebut orang-orang murtad. Daftar kitab-kitab Allah SWT beserta Rasul penerima wahyunya:
1.      Kitab Taurat diturunkan kepada nabi Musa AS.
2.      Kitab Zabur diturunkan kepada nabi Daud AS.
3.      Kitab Injil diturunkan kepada nabi Isa AS.
4.      Kitab Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW.
Kitab suci injil yang saat ini dijadikan kitab suci oleh kaum Nasrani, Kristen, Katolik dan Protestan sangat berbeda dengan injil yang diwahyukan kepada nabi Isa AS semasa hidupnya untuk kaumnya. Oleh sebab itu datang Al-Quran untuk menjadi penyempurna seluruh kitab suci yang ada.[3]
B.     Sikap Prilaku Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Dalam menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Allah SWT berkaitan erat dengan sikap mental, pikiran dan perasaan. Oleh sebab itu, seseorang yang beriman atau tidak yang tahu persis hanyalah Allah SWT. Akan tetapi sebagai muslim, tentunya dapat membuktikan dan mewujudkan keimanannya dengan sikap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Sikap perilaku orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah SWT dapat dicerminkan sebagai berikut:
1.      Meyakini bahwa sebelum Al Qur’an, Allah SWT menurunkan kitabkitab kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya. Sebagaimana firman-Nya:   
 نَزَّلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ ٣
Artinya:  “Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (Q.S. Ali Imran : 3).
2.      Meyakini dengan sebenarnya bahwa kitab yang terakhir adalah Al Qur’an yaitu sebagai pedoman hidup. Sebagaimana firman-Nya:  
وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ٤٨
Artinya:  “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Q.S. Al-Ma’idah: 48)
3.      Menyembah dan beribadah hanya kepada Allah SWT.
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
Artinya:”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Zariyat: 56)
4.      Meyakini bahwa Al Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhamad SAW sebagai penyempurna. Kitab-kitab dahulu tidak universal ajarannya. Aturan-aturan yang terkandung didalamnya pada umumnya hanya sesuai dengan masa dan tempat kitab-kitab itu diturunkan. Oleh karena itu Al Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab suci itu. 
5.      Meyakini bahwa teks asli dari kitab yang telah lalu telah hilang dan bahasanya telah mati sejak beberapa abad yang silam. Hanya Al Qur’an yang sampai sekarang tidak pernah berubah satu huruf sekalipun.

C.    Hikmah Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Dalam menerapkan hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah SWT, implementasinya sebagai berikut:
1.      Beriman kepada Allah SWT hukumnya adalah wajib. Harus melakukan, tidak boleh meninggalkan. Orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah akan mendapatkan balasan dari Allah SWT berupa ganjaran.
2.      Menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dimana Al Qur’an merupakan penyempurna dari kitab-kitab terdahulu. Orang-orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah akan membuktikan keimanannya selalu sesuai dengan ajaran Allah SWT, sehingga dalam hidupnya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥
Artinya: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buahbuahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al Baqarah: 25)
3.      Memberikan kemantapan dalam menjalani keislaman. Al Qur’an adalah firman Allah SWT dan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kerasulannya dan sampai akhiru zaman tetap terjaga kemurniannya.
4.      Menjadikan kehidupan manusia di dunia tertata, karena adanya hukum yang bersumber pada kitab suci.
5.      Menambah sikap optimis untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.[5]  
        
Sumber:
1.      Miftah Fardih, Al-Quran Sumber Hukum Islam Yang Pertama (Bandung: Pustaka, 2003).
2.      Miftah Faridh, Pokok-Pokok Ajaran Islam (Bandung: Pustaka, 2008).
3.      Syamsuri, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Erlangga, 2003).
4.      TIM MGMP PAI SMA KOTA MADIUN, Pendidikan Agama Islam Kelas XI (Madiun: CV. Sinar Terang, 2012). 


[1] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Erlangga, 2003), 23.
[2] Miftah Faridh, Pokok-Pokok Ajaran Islam (Bandung: Pustaka, 2008), 34.
[3] Ibid.
[4] TIM MGMP PAI SMA KOTA MADIUN, Pendidikan Agama Islam (Ponorogo: CV. Sinar Terang, 2012), 35. 
[5] Miftah Fardih, Al-Qur’an Sumber Hukum Islam yang Pertama (Bndung: Pustaka, 2003), 45.

Materi PAI (Beriman Kepada Qada dan Qadar)


BERIMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
A.    Pengertian Qadha Qadar
Keyakinan pada Qadha Qadar yang menjadi rukun iman keenam ini berasal dari Sunah Nabi yang kini dihimpun dalam kitab-kitab Hadis, merupakan bagian integral iman atau keyakinan Islam.[1] Menurut bahasa “qadha berasal dari kata Qadha-Yaqdii yang berarti memutuskan sutu perkara dengan ucapan atau perbuatan. Secara istilah Qadha berarti ketetapan, ketentuan atau keputusan Allah SWT tentang suatu perkara sejak zaman azali (sebelum adanya alam ini) yang belum diketahui dan belum diterima oleh makhluk-Nya. Sedangkan menurut bahasa kata “Qadar” berasal dari lafaz Qadara-Yaqdiru yang berarti kuasa mengerjakan sesuatu. Secara istilah Qadar berarti pembatasan Allah SWT tentang sesuatu, dengan kata lain Qadar berarti ukuran atau aturan yang diciptakan oleh Allah SWT untuk perkara tersebut atau bisa juga berarti ketentuan atau ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah SWT atas makhluk-Nya dan telah diterima serta telah berlaku bagi makhluk-Nya.[2]
Khusus mengenai perkataan qada (kada) dan qadar (kadar) yang disebut dalam al-Qur’an antara lain dalam surat al-Ahzab (33): 36, dan surat al-Qamar (54): 49, perlu diberikan catatan berikut. Di dalam sejarah Islam, perkataan kada dan kadar yang disebut juga takdir dalam pembicaraan sehari-hari, pernah menimbulkan salah paham terhadap Islam. Sebabnya, karena perkataan takdir diartikan sebagai sikap yang pasrah kepada nasib tanpa usaha atau ikhtiar. Untuk menghindari kesalah pengertian itu, perlu dipahami benar makna yang dikandung oleh kedua perkataan tersebut. Yang dimaksud dengan kada adalah ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan tentang sesuatu, sedang kadar adalah ukuran sesuatu menurut hukum tertentu. Dapat pula dikatakan bahwa kada adalah ketentuan atau ketetapan, sedang kadar adalah  ukuran. Dengan demikian yang dimaksud dengan kada dan kadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan (Allah) menurut ukuran atau norma tertentu.[3]
Dalam meyakini Rukun Iman yang keenam ini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Diantaranya yang terpenting adalah hubungan takdir dengan kehendak bebas atau free will manusia tersebut diatas. Untuk itu perlu dikemukakan pertanyaan berikut: dalam meyakini takdir Ilahi apakah manusia masih mempunyai kehendak bebas dalam mengatur perbuatannya? Dalam menjawab pertanyaan ini ada dua teori yang berbeda. Perbedaan itu disebabkan karena perbedaan pendapat mengenai kekuasaan Tuhan yang mutlak dan keadilan Tuhan mengenai perbutan manusia.[4]
Yang menganggap kekuasaan Tuhan itu mutlak berpendapat bahwa Allah dapat berbuat apa saja, baik yang kelihatan adil maupun yang kelihatan tidak adil oleh manusia (teori pertama). Menurut pandangan ini, manusia adalah alat Tuhan yang tidak mempunyai kebebasan dalam mengatur nasibnya. Teori ini, yang terkenal sebagai fatalisme (ajaran atau paham bahwa manusia dikusai oleh nasib), telah menyebabkan Islam dilecehkan sebagai agama fatalis (ajaran yang pemeluknya percaya atau menyerah saja pada nasib). Menurut Mahmud Syaltut pendapat ini adalah salah sesalah-salahnya, karena Islam mengakui peranan manusia dalam mengatur perbuatan-perbuatannya.[5]
Pendapat Mahmud Syaltut ini sejalan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatannya (teori kedua). Dengan akal yang ada padanya, manusia dapat menentukan pilihannya. Dengan kehendak bebas (free will) yang ada padanya, manusia menjadi pembuat nasibnya sendiri. Ini jelas dalam ayat yang mengatakan bahwa (terjemahannya lebih kurang):”Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubaah nasib mereka” (Q.S. ar-Ra’du (13): 11). Perkataan sesuatu kaum dalam ayat diatas dapat diganti dengan seseorang. Oleh karena itu, apa yang disebut nasib, sesungguhnya, tidaklah lain dari berlakunya hukum sebab akibat dalam kehidupan manusia (seseorang).[6]
Menurut al-Qur’an, demikian Mahmud Syaltut, manusia bebas memilih perbuatan yang akan dilakukannya. Ia bebas pula menentukan kepercayaan yang dianutnya dan dia akan memperoleh sesuatu baik hukuman atau pahala sesuai dengan pilihannya itu. Allah hanya menunjukkan jalan yang seyogianya diikuti oleh manusia. Manusia bebas memilih untuk menuruti atau tidak menuruti jalan itu. Allah tidak mengganggu pilihan manusia. Oleh karena itu manusia harus mengerjakan penyelamatan dirinya dan penyelamatan ini hanya dapat dalam beriman dan beramal saleh. Beramal saleh artinya berbuat sesuatu yang baik yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang ain, dan masyarakat. Di dalam al-Qur’an perkataan iman selalu diikuti dengan perkatan amal saleh sebagai syarat bagi manusia untuk memasuki surga yang telah disediakan Allah untuknya.[7]
B.     Bukti Akan Adanya Qadha Qadar
Dalil-dalil yang menunjukkan bukti adanya Qadha Qadar antara lain:
1.   Surat Al-Furqon/25 ayat: 2
وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ٢
Artinya:
    “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.
2.      Surat ar-Ro’du/13 ayat: 8
وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ ٨
Artinya:
    “Segala sesuatu disisi Allah telah ditentukan”.
3.      Surat Ar-Ro’du/13 ayat: 39
يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثۡبِتُۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ ٣٩
Artinya:
    “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan (apa yang dikehendaki) dan disisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauhil Mahfudz)”.
4.      Surat Al-Hijr/15 ayat: 21
وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَآئِنُهُۥ وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ إِلَّا بِقَدَرٖ مَّعۡلُومٖ ٢١
Artinya:
    “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami lah khazanahnya. Dan kami tidak menurunkan melainkan dengan ukuran tertentu.”[8]
C.    Ciri-Ciri Perilaku Orang Yang Beriman Kepada Qadha Qadar
Beriman kepada Qadha Qadar sangatlah berat bagi orang-orang yang tipis iman karena takdir yang terjadi sering tidak sesuai dengan kehendak hati. Untuk menjaga keimanan kepada Qadha Qadar diri kita maka perlu senantiasa menanamkan keyakinan bahwa apapun yang terjadi, baik yang sesuai dengan kehendak kita atau pun yang tidak sesuai, semata-mata merupakan ketentuan dari Allah SWT.
Sikap yang mesti kita lakukan adalah menerima dengan rasa syukur ketika taqdir dari Allah sesuai dengan kehendak kita. Sebaliknya apabila ternyata taqdir yang terjadi pada diri kita tidak sesuai dengan kehendak hati atau tidak menyenangkan, maka harus diterima dengan lapang dada, seraya meningkatkan keyakinan bahwa allah pasti akan memberi kebaikan di balik semuanya itu. Pada dasarnya takdir yang baik merupakan nikmat dan taqdir yang buruk adalah musibah yang semuanya merupakan ujian bagi manusia untuk bersyukur, bersabar, dan ikhlas.
Adapun ciri-ciri orang yang beriman kepada Qadha Qadar, dapat ditunjukkan dengan perilaku antara lain sebagai berikut:
1.      Bersyukur dan bersabar
Perilaku ini ditunjukkan ketika mendapat kebaikan dan musibah. Kebaikan yang diterima akan disambut dengan rasa syukur yang mendalam. Sebaliknya, apabila terkena musibah maka akan diterima dengan kesabaran. Hal itu merupakan kehendak Allah SWT. 
2.      Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Biasanya manusia dihinggapi sifat sombong sekaligus mudah putus asa. Orang-orang yang beriman  kepada Qadha Qadar menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, sedangkan orang-orang yang sombong menganggap bahwa segala keberhasilan diterima dianggap sebagai hasil  jerih payah dan usahanya sendiri kemudian menganggap  dirinya yang paling hebat. Sebaliknya apabila tertimpa kegagalan, orang-orang yang beriman kepada Qadha Qadar akan menerima dengan ketabahan hati, sedangkan orang-orang yang mudah putus asa akan selalu berkeluh kesah. Mereka lupa bahwa segala yang terjadi pada diri manusia semata-mata merupakan ketentuan Allah.
3.      Optimis dan giat bekerja
Tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaan takdir yang akan menyertai hidupnya, tetapi semua menginginkan takdir yang sesuai dengan harapannya. Bagi orang yang beriman kepada Qadha Qadar menyadari bahwa nasib baik tidak akan berpihak tanpa adanya upaya untuk meraihnya. Sikap yang demikian ini akan mendorong seseorang untuk selalu bersikap optimis dan ditunjukkan dengan giat bekerja sehingga harapan kebahagiaan akan dapat diraih.
4.      Ketenangan Jiwa
Ketenangan jiwa juga merupakan salah satu ciri orang yang beriman kepada Qadha Qadar. Mereka ridha dengan segala ketentuan Allah SWT. Apabila  mendapatkan kebahagian mereka bersyukur, dan jika mendapatkan kegagalan mereka tetap tenang dan bangkit lagi untuk mencapai sukses. Semua kegagalan yang telah ditetapkan oleh Allah tidak pernah menyurutkan langkahnya, dia kembalikan semuanya kepada Allah SWT.
5.      Memperkuat Tawakal kepada Allah
Orang yang beriman kepada Qadha Qadar menyadari bahwa kebaikan dan keburukan yang terjadi pada diri mereka semata-mata menjadi hak mutlak kehendak Allah SWT. Keyakinan ini menimbulkan sikap memperteguh tawakal kepada Allah.[9]
D.    Ikhtiar dan Berdoa serta Hubungannya Dengan Takdir
Untuk memahami takdir,  manusia  harus hidup dengan ikhtiar, sebab dalam kehidupan sehari-hari nyatanya takdir Ilahi berkaitan erat dengan usaha manusia. Usaha manusia harusah maksimal (sebanyak-banyaknya), dan optimal (sebaik-baiknya) diiringi dengan doa dan tawakal. Tawakal yang dimaksud adalah tawakal dalam makna menyerahkan nasib dan kesudahan usaha kita kepada Allah, sementara kita terus berikhtiar serta yakin bahwa penentuan terakhir segala-galanya berada dalam kekusaan Allah. Inilah makna takdir yang sebenarnya, yang berlangsung melalui proses usaha (ikhtiar), do’a dan tawakkal.[10]
Manusia diwajibkan berikhtiar untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Walaupun segala sesuatu yang terjadi  di dunia ini telah ditetapkan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan segala usaha manusia sebagai bentuk ikhtiar yang memberi kesempatan dan kebebasan manusia untuk menentukan nasibnya sendiri.
Kewajiban berikhtiar ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW. dalam sebuh hadis “suatu ketika Nabi didatangi oleh seorang Arab Badui yang menunggang sebuah unta. Setelah sampai, ia turun dari untanya dan langsung menghadap Rasul tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Nabi menegur orang tersebut, kemudian orang badui itu berkata, “Biarlah saya bertawakal kepada Allah.” Nabi bersabda, “Ikatlah untamu, setelah itu bertawakallah kepada Allah.”
Dari riwayat tersebut jelaslah, meskipun Allah menentukan segala sesuatu, manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Oleh sebab itu, kita harus berikhtiar (berusaha). Sebagai contoh: Apabila ingin pandai, kita harus belajar sungguh-sungguh.
Di samping itu, ikhtiar juga harus ditopang oleh kekuatan do’a. Berdoa mengandung pengertian permohonan pertolongan kepada Allah atas segala sesuatu. Berdoa tidak saja di kala ditimpa musibah, melainkan dalam keadaan segar dan sehat. Dengan berdoa, kita mengembalikan segala urusan kita kepada Allah. Dengan demikian, apa yang akan terjadi pada diri kita akan kita terima dengan ridha dan ikhlas.
Mengenai hubungan antara Qadha Qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat bahwa takdir itu ada dua macam:
1.      Takdir Muallaq, yakni takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia, takdir ketergantungan. Maksudnya, takdir yang masih dapat diubah bergantung pada ikhtiar (usaha) manusia. Contoh, seorang ingin menjadi dokter, maka ia harus giat sekolah dengan belajar yang tekun sesuai dengan jurusannya.
2.      Takdir Mubram, yakni takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat ditawar-tawar lagi. Contohnya tentang kematian, kelahiran, jenis kelamin, banyak sedikitnya rezeki, dan sebagainya. [11]
E.     Hikmah Iman Kepada Qadha Qadar
Seorang muslim wajib beriman dengan taqdir (Al-qadr khairuhu syarruhu) sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan Sunah Rasul.
Memahami taqdir harus secara benar, karena kesalahan memahami taqdir akan melahirkan pemahaman dan sikap yang salah pula dalam menempuh kehidupan di dunia ini.
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari keimanan kepada taqdir ini, antara lain yaitu:
1.      Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sesuai dengan undang-undang, aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah SWT. Oleh sebab itu manusia harus mempelajari, memahami, dan mematuhi ketetapan Allah SWT tersebut supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat nanti.
2.      Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan diakhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
3.      Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang mutlak, di samping memiliki kebijaksanaaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
4.      Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.
5.      Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah SWT. Di saat memperoleh kebahagiaan dan nikmat dia segera bersyukur kepada Allah SWT dan tidak memiliki kesombongan karena semuanya itu didapat atas izin Allah SWT. Di saat mendapat musibah dan kerugian dia bersabar karena meyakini semuanya itu adalah karena kesalahannya sendiri dan karena cobaan dan ujian dari Allah SWT yang kelak kemudian juga akan mendatangkan kebaikan.[12]
Sumber:
1. Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,       1998).
2. Rosihan Anwar, Akidah Akhlak (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008).
3. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI), 2006).
4. Ahmad Syauqil, Akidah Akhlak (Jakarta: Kementerian Agama, 2016).
5. Team Penulis TAQWA,  Aqidah Akhlak (Jakarta: Kementerian Agama, 2016).




[1]Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998),  230.
[2]Ahmad Syauqil, Akidah Akhlak (Jakarta: Kementerian Agama, 2016), 72.
[3]Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama..., 230-231.
[4]Ibid., 231.
[5]Ibid.
[6]Ibid., 231-132.
[7]Ibid.,  232.
[8]Team penulis TAQWA, Aqidah Akhlak (Jakarta: Kementerian Agama, 2016), 4.
[9] Team penulis TAQWA, Aqidah..., 6-8.
[10]Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998),  233.
[11] Rosihan Anwar, Akidah Akhlak (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), 196-197.
[12]Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI), 2006), 191-192.

Tiga Dimensi Teknologi Pendidikan (Teori, Bidang Garapan, dan Profesi)

Tiga Dimensi Teknologi Pendidikan (Teori, Bidang Garapan, dan Profesi) Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Tekno...